A. Komponen-komponen dalam Proses
Pembelajaran
Pandangan mengenai konsep
pembelajaran terus menerus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan
perkembangan IPTEK. Pembelajaran sama artinya dengan kegiatan mengajar.
Kegiatan mengajar dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pengetahuan kepada
siswa. Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen
yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi:
kurikulum, guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi. Pelaksanaan
pembelajaran adalah operasionalisasi dari perencanaan pembelajaran, sehingga
tidak lepas dari perencanaan pengajaran / pembelajaran yang sudah dibuat. Oleh
karenanya dalam pelaksanaannya akan sangat tergantung pada bagaimana
perencanaan pengajaran sebagai operasionalisasi dari sebuah kurikulum.
komponen
pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu
sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar. Di dalam
pembelajaran, terdapat komponen-komponen yang berkaitan dengan proses
pembelajaran, yaitu :
1. Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum ( curriculum ) berasal dari
bahasa Yunani, curir yang artinya
“pelari” dan curere yang berarti
“tempat berpacu”. yaitu suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis
start sampai garis finish. Secara terminologis, istilah kurikulum mengandung
arti sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau
diselesaikan siswa guna mencapai suatu tingkatan atau ijazah. Pengertian
kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau bidang studi dan
kegiatan-kegiatan belajar siswa saja, tetapi juga segala sesuatu yang
berpengaruh terhadap pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan
yang diharapkan. Misalnya fasilitas kampus, lingkungan yang aman, suasana
keakraban dalam proses belajar mengajar, media dan sumber-sumber belajar yang
memadai.
Kurikulum sebagai rancangan
pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek
kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan
dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak
bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
2. Guru
Kata Guru berasal dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga berarti guru, tetapi arti
harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa
Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik.
Di dalam masyarakat, dari yang
paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Guru
merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat.
Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan),
tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran
yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
3. Siswa
Siswa atau Murid biasanya digunakan
untuk seseorang yang mengikuti suatu program pendidikan di sekolah atau lembaga
pendidikan lainnya, di bawah bimbingan seorang atau beberapa guru. Dalam
konteks keagamaan murid digunakan sebagai sebutan bagi seseorang yang mengikuti
bimbingan seorang tokoh bijaksana. Meskipun demikian, siswa jangan selalu
dianggap sebagai objek belajar yang tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar
belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda. Bagi siswa,
sebagai dampak pengiring (nurturent effect) berupa terapan pengetahuan dan atau
kemampuan di bidang lain sebagai suatu transfer belajar yang akan membantu
perkembangan mereka mencapai keutuhan dan kemandirian.
4. Metode
Metode pembelajaran adalah cara yang
dapat dilakukan untuk membantu proses belajar-mengajar agar berjalan dengan
baik, metode-metode tersebut antara lain :
a. Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu sebuah metode
mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada
sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif.
b. Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu
metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid
menjawab, atau sebaliknya murid bertanya pada guru dan guru menjawab pertanyaan
murid itu .
c. Metode Diskusi
Metode diskusi dapat diartikan
sebagai siasat “penyampaian” bahan ajar yang melibatkan peserta didik untuk
membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang
bersifat problematis.
d. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang
disajikan.
e. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode atau
cara di mana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu latihan atau
percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sesuatu aksi.
5. Materi
Materi juga merupakan salah satu faktor penentu keterlibatan
siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus menurut Hutchinson dan Waters adalah:
1. Adanya teks yang menarik.
2. Adanya
kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir
siswa.
3. Memberi
kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka
miliki.
4. Materi yang dikuasai baik oleh siswa
maupun guru.
Dalam kegiatan belajar, materi harus
didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan dengan
memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan
sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan kecakapan dalam
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
6. Alat Pembelajaran (Media)
Kata media berasal dari bahasa latin
dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti perantara
atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim
kepada penerima pesan. Media pembelajaran adalah perangkat lunak (soft ware)
atau perangkat keras (hard ware) yang berfungsi sebagai alat belajar atau alat
bantu belajar.
7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari bahasa
Inggris yaitu “Evaluation”. Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari suatu hal. Ada pendapat
lain yang mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data
seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa,
guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan
mengembangkan kemampuan belajar.
B. Tugas Guru
Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
1. Adanya teks yang menarik.
2. Adanya kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir siswa.
3. Memberi kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki.
4. Materi yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru.
B. Tugas Guru
- Guru adalah figur seorang pemimpin. Guru adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik.
- Sebagai suatu profesi
- Tugas kemanusiaan
- Tugas kemasyarakatan
Bila
dirinci lebih jauh, tugas guru tidak hanya yang telah disebutkan. Menurut
Roestiyah N.K., bahwa guru dalam mendidik peserta didik bertugas untuk :
1. Menyerahkan
kebudayaan kepada peserta didik
2. Membentuk
kepribadian peserta didik
3. Menyiapkan
peserta didik menjadi warga Negara yang baik
4. Sebagai
perantara dalam belajar
5. Sebagai
pembimbing
6. Sebagai
penghubung antara sekolah dan masyarakat
7. Sebagai
penegak disiplin
8. Sebagai
administrator dan manajer
9. Sebagai
profesi
10. Sebagai perencana kurikulum
11. Sebagai pemimpin
C. Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
Banyak
peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang
menerjunkan diri menjadi guru. Semua peranan yang diharapkan dari guru seperti
diuraikan di bawah ini :
1. Korektor
Sebagai
korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang
buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan
di masyarakat. Kedua niilai ini mungkin telah dimiliki peserta didik dan
mungkin pula telah mempengaruhinnya sebelum peserta didik masuk sekolah. Latar
belakang peserta didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural
masyarakat dimana peserta didik tinggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai
yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus disingkirkan
dari jiwa dan watak peserta didik. Bila guru membiarkannya, berarti guru telah
mengabaikan peranannya sebagai seorang korektor, yang menilai dan mengoreksi
semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan peserta didik. Koreksi yang harus guru
lakukan terhadap sikap dan sifat peserta didik tidak hanya di sekolah, tetapi
juga di luar sekolah. Sebab peserta didik justru lebih banyak melakukan
pelanggaran terhadap norma-norma susila, moral, sosial, dan agama.
2. Inspirator
Sebagai Inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan
belajar peserta didik. Persoalan belajar adalah masalah utama peserta didik.
Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana belajar yang baik.
Petunjuk itu tidak tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori
belajar. Dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana belajar yang
baik.
3. Informator
Sebagai Informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi,selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata
pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan
efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi peserta
didik. Untuk menjadi Informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah
sebagai kuncinya. Ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada
peserta didik. Informator yang baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan
peserta didik dan mengabdi untuk peserta didik.
4. Organisator
Sebagai Organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru.
Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun
tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya. Semuanya
diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam
belajar pada peserta didik.
5. Motivator
Sebagai Motivator, guru hendaknya dapat mendorong peserta didik agar bergairah
dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisi
motif-motif yang melatarbelakangi peserta didik malas belajar dan menurun
prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator,
karena dalam interaksi edukatif tidak mustahil ada di Antara peserta didik yang
malas belajar dan sebagainya.
6. Inisiator
Sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam
pendidikan dan pengajaran.
7. Fasilitator
Sebagai
fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan
kemudahan kegiatan belajar peserta didik.
8. Pembimbing
Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan
di atas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan,
karena kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing peserta didik untuk
menjadi manusia dewasa susila yang cakap.
9. Demonstrator
Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat dipahami. Apalagi
peserta didik yang memiliki inteligensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang
sukar dipahami peserta didik, guru harus berusaha dengan membantunya. Dengan
cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan
sejalan dengan pemahaman peserta didik, tidak terjadi kesalahan pengertian
antara guru dan peserta didik.
Pengelola Kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik,
karena kelas adalah tempat berhimpun semua peserta didik dan guru dalam rangka
menerima bahan pelajaran dari guru.
Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup
tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media
nomaterial dan materiil.
Supervisor
Sebagai Supervisor, guru hendaknya dapat membantu memperbaiki, dan menilai
secara kritis terhadap proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi harus guru
kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar
mengajar menjadi lebih baik.
Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan
jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan
instrinsik.
D. Permasalahan Guru dalam Proses Pembelajaran
Guru harus mampu memahami kondisi-kondisi yang memungkinkan
dirinya berbuat salah, dan yang paling penting adalah mengendalikan diri serta
menghindari dari kesalahan-kesalahan. Menurut E. Mulyasa (2011:19) dari
berbagai hasil kajian menunjukan bahwa sedikitnya terdapat tujuh kesalahan yang
sering dilakukan guru dalam permbelajaran, yaitu ;
1.
Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran
Tugas
guru paling utama adalah mengajar, dalam pengertian menata lingkungan agar
terjadi kegiatan belajar pada peserta didik. Berbagai kasus menunjukan bahwa
diatara para guru banyak yang merasa dirinya sudah dapat mengajar dengan baik,
meskipun tidak dapat menunjukan alasan yang mendasari asumsi itu.
Asumsi
keliru tersebut seringkali menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehinga
banyak guru yang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam
perencanaan, pelaksa naan, maupun evaluasi.
Agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, guru
hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu system, yang jika salah satu
komponennya terganggu, maka akan menggangu seluruh system tersebut. Sebagai
contoh, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melakukan
kegiatan pembelajaran., serta merevisi sesuai dengan kebutuhan peserta didik,
dan perkembangan zamannya.
Harus selalu diingat mengajar tampa
persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya, yang dapat
merugikan perkembangan peserta didik, dan mengancam kenyamanan guru.
2.
Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negative
Dalam
pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang
semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal
melalui perhatian guru yang positif , sebaliknya perhatian yang negative akan
menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika mendapat pujian dari
guru dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan .
Namun
sayang kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang
mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan maateri kepada peserta
didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberika pengetahuan kepada
peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan
kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang
berbuat baik, dan tidak membuat masalah.
Biasanya
guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika rebut, tidur
dikelas, tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menunggu peserta didik
berperilaku buruk. Kondisi tersebut sering kali mendapatkan tanggapan yang
salah dari peserta didik, mereka beranggapan bahwa untuk mendapatkan perhatian
dari guru harus berbuat salah, burbuat gaduh, menganggu atau melakukan tindakan
tidak disiplin lainnya. Seringkali terjadi perkelahian pelajar hanya
karena mereka tidak mendapatkan perhatian, dan meluapkannya melalui
perkelahian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan peserta didik tidak
tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendapatkan perhatian dari guru, orang
tua, dan masyarakat sekitarnya, tetapi mereka tahu cara menggangu teman,
membuat keributan, serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan
untuk mendapatkan perhatian.
Guru
perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukan oleh para
peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas prilaku tersebut dengan pujian
dan perhatian. Kedengarannya hal ini sederhana. tetapi memerlukan upaya
sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan member hadiah atas perilaku-perilaku
positif peserta didik, baik secara kelompok maupun individual.
Menghargai perilaku peserta didik
yang postif sungguh memmberikan hasil nyata. Sangat efektif jika pujian guru
langsung diarahkan kepada perilaku khusus dari pada hanya diekspresikan dengan
pernyataan positif yang sifatnya sangat umum. Sangat efektif guru berkata “termakasih
kalian telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh” daripada “kalian
sangat baik hari ini”
Disisi lain, guru harus
memperhatikan perilaku-perilaku peserta didik yang negatf, dan mengeliminasi
perilaku-perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Guru bisa mencontohkan
berbagai perilaku peserta negatif , misalnya melalui ceritera dan ilustrasi,
dan memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku negative
tersebut. Sekali lagi “Jangan menunggu peserta didik berperilaku
negative”.
3.
Menggunakan Destructive Disclipline
Akhir-akhir
ini banyak perilaku negatif yang dilakukan oleh para peserta didik, bahkan
melampaui batas kewajaran karena telah menjurus pada tindak melawan hokum,
melanggar tata tertib, melanggar norma agama, criminal, dan telah membawa
akibat yang sangat merugikan masyarakat. Demikian halnya dengan pembelajaran,
guru akan mengahadapi situasi-situasi yang menuntut guru harus melakukan
tindakan disiplin.
Seperti
alat pendidikan lain, jika guru tidak memiliki rencana tindakan yang benar,
maka dapat melakukan kesalahan yang tidak perlu. Seringkali guru memberikan
hukuman kepada peserta didik tanpa melihat latar belakang kesalahan yang
diperbuat, tidak jarang guru memberikan hukuman diluar batas kewajaran
pendidikan, dan banyak guru yang memberikan hukuman kepada peserta didik tidak
sesuai dengan jenis kesalahan.
Dalam
pada itu seringkali guru memberikan tugas-tugas yang harus dikerjakan peserta
didik diluar kelas (PR), namun jarang sekali guru yang mengoreksi pekerjaan
peserta didik dan mengembalikannya dengan berbagai komentar, kritik dan saran
untuk kemajuan peserta didik. Yang sering dialami peserta didik adalah guru
sering memberikan tugas , tetapi tidak pernah memberi umpan balik terhadap
tugas-tugas yang dikerjakan. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan
penegakan disiplin yang destruktrif, yang sangat merugikan perkembangan peserta
didik.
Bahkan
tidak jarang tindakan destructive disclipline yang dilakukan oleh guru
menimbulkan kesalahan yang sangat fatal yang tidak hanya mengancam perkembangan
peserta didik, tetapi juga mengancam keselamatan guru. Di Jawa Timur pernah ada
kasus seorang peserta didik mau membunuh gurunya dengan seutas tali raffia,
hanya gara-gara gurunya memberikan coretan-coretan merah pada hasil ulangannya.
Kesalahan-kesalaha
seperti yang diuraikan diatas dapat mengakibatkan penegakan disiplin menjadi
kurang efektif, dan merusak kepribadian dan harga diri peserta didik. Agar guru
tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan yaitu :
§ Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang
§ Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran
§ Hindari menghina dan mengejek peserta didik
§ Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat
§ Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran.
4.
Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik
Kesalahan
berikutnya yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah
mengabaikan perbedaan individu peserta didik. Kita semua mengetahui setiap
peserta didik memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan
dalam pembelajaran. Peserta didik memiliki emosi yang sangat bervariasi, dan
sering memperlihatkan sejumlah perilaku yang tampak aneh. Pada umumnya
perilaku-perilaku tersebut cukup normal dan dapat ditangani dengan menciptakan
pembelajaran yang kondusif. Akan tetapi karena guru disekolah dihadapkan pada
sejumlah peserta didik, guru seringkali sulit untuk membedakan mana perilaku
yang wajar atu normal dan mana perilaku yang indisiplin dan perlu penanganan
khusus.
Setiap
peserta didik memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan,
kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga,
latar belakang social ekonomi, dan lingkungan, membuat peserta didik berbeda
dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya
dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik, dan menetapkan
karakteristik umum yang menjadi cirri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang
menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam hal
ini, guru juga harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan
dan yang harus diarahkan kembali.
Sehubungan
dengan uraian diatas, aspek-aspek peserta didik yang peru dipahami guru antara
lain: kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil
belajar, ctatan kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah.
Informasi tersebut dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau catatan
sekolah, informasi dai peserta didik lain (teman dekat), observasi langsung
dalam situasi kelas, dan dalam berbagai kegiatan lain di luar kelas, serta
informasi dari peserta didik itu sendiri melalui wawancara, percakapan dan
autobiografi.
5.
Merasa Paling Pandai
Kesalahan
lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai
dikelas. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umumnya para peserta
didik disekolahnya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa
peserta didik tersebut lebih bodoh disbanding dirinya, peserta didik dipandang
sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat
menyesatkan
karena dalam kondisi seperti
sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media
massa, yang mungkin guru belum menikmatinya.
Hal ini terjadi terutama di
kota-kota besar, ketika peserta didik datang dari keluarga kaya yang dirumahnya
memiliki sarana dan prasarana yang lengkap, serta berlangganan Koran dan
majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sedangkan guru belum memilikinya.
Denan demikian peserta didik yang belajar mungkin saja lebih pandai daripada
guru. Jika ini terjadi maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar
kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling
membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang
hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan
perkembangan yang terjadi dimasyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan
kereta, bahkan disebut guru ortodok.
6.
Diskriminatif
Pembelajaran
yang baik dan efektif adalah yang mampu memberi kemudahan belajar secara adil
dan merata (tidak diskriminatif), sehingga peserta didik dapat mengembangkan
potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran meupakan kewajiban guru
dan hak peserta didik untuk memperolehnya. Dalam prakteknya banyak guru yang
tidak adil, sehingga merugikan perkembangna peserta didik, dan ini merupakan
kesalahan guru yang sering dilakukan , terutama dalam penilaian. Penilaian
merupakan upayakan untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik sesuai
dengan usaha yang dilakukannya selama proses pembelajaran.
Oleh karena itu, dalam memeberikan
penilaian harus dilakukan secara adil, dan benar-benar merupakan cermin dari
perilaku peserta didik. Namun demikian tidak sedikit guru yang menyalahgunakan
penilaian, misalnya sebagai ajang untuk balas dendam, atau ajang untuk
menyalurkan kasih sayang diluar tanggung jawabnya sebagai seorang guru.
7.
Memaksa hak peserta didik
Memaksa
hak peserta didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai
akubat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Guru boleh saja memiliki
pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya,
tetapi tindakkan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku
tertentu sangat fatal serta kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan
boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orangtua yang tidak mampu.
Kondisi
semacam ini sering kali membuat prustasi peserta didik, bahkan di Garut pernah
pernah ada peserta didik bunuh diri hanya karena dipaksa untuk membeli alat
pelajaran tertentu oleh gurunya. . Kerna peserta didik tersebut tidak memiliki
uang atau tidak mampu dia nekat bunuh diri. Ini contoh akibat fatal dari guru
yang suka berbisnis disekolah dengan memaksa peserta didiknya untuk membeli.
Hindarilah, ingat sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di
dunia gaji tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai
profesi. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai
ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak diakhirat. Percayalah, dan
tanyakan pada hati nurani. Jangan mengambil keuntungan sesaat, tetapi menyesatkan.
Sadarlah wahai guru, agar namamu selalu sejuk dalam sanubariku. Demikianlah
penjelasan E. Mulyasa mengenai 7 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Guru Dalam
Pembelajaran.
Sedangkan menurut Dr. Wina
Sanjaya ( 2005 : 70 ) menyebutkan ada 4 kekeliruan dalam proses belajar
mengajar yang dilakukan oleh guru yaitu :
- Ketika
mengajar, guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang
diajarkannya sudah dipahami oleh siswa atau belum.
- Dalam
proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa.
Komunikasi bisa terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap
bahwa bagi siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan
mengembangkan kemampuan berpikir.
- Guru
tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan
penjelasannya.
- Guru
menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran
dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai " tong kosong "
yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting
11. Sebagai pemimpin
- Ketika mengajar, guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkannya sudah dipahami oleh siswa atau belum.
- Dalam proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa. Komunikasi bisa terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa bagi siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan mengembangkan kemampuan berpikir.
- Guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya.
- Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai " tong kosong " yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting
